IAIN Langsa
Wadek III Fakultas Syari’ah Ibtida’ Kitab di Dayah Raudhatun Najah Kota Langsa

31 Juli 2019

Kota Langsa (Humas) – Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa Dr. Abdul Manaf, M. Ag melakukan Ibtida’ Kitab (Peuphon Kitab, red) di Dayah Raudhatun Najah Gampong Sukarejo, Kecamatan Langsa Timur pada Rabu (31/7/2019) pagi.

Tradisi peuphon Kitab (Ibtida’) atau memulai kitab baru menjadi salah satu bukti penghormatan santri terhadap ilmu dan pemiliknya. Kebiasaan ini dilakukan di hampir seluruh dayah atau pesantren tradisional di Aceh. Peuphon kitab bersama santriwan/wati kelas II Tsanawiyah dan kelas I Aliyah ini dimulai dengan pemberian hadiah bacaan surat al-Fatihah untuk pengarang kitab. 

Tgk. Wildan, MA mewakili pimpinan Dayah Raudhatun Najah mengatakan, Ibtida’ Kitab pertama yang dimulai dalam tradisi rutin yang bertujuan mengharap keberkahan (tabaruk) kali ini adalah kitab Fathul Mu’in karya Syaikh Zainuddin Al Malibari.

Lanjutnya, Tgk. DR. Abdul Manaf M. Ag memperkenalkan kitab tersebut satu persatu kepada santri lengkap dengan biografi singkat pengarangnya.

“Salah satu pelajaran penting yang dapat dipedomani, menurutnya, adalah pentingnya sebuah nama yang dapat mencerminkan musamma (yang dinamai),”katanya.
Kitab Qurratul Ain, misalnya, bermakna penyejuk jiwa. Nama ini menjadi salah satu doa tersirat sang pengarang (mushannif) agar menarik bagi pembacanya.

Lebih lanjut Tgk. Wildan menyebutkan, Kitab kedua yang menjadi ibtida’ kitab adalah Kitab Fath Al-Qarib atau lebih dikenal dikalangan dayah atau pesantren dengan sebutan kitab Bajuri yang dikarang oleh Ibnu Qasim Al-Ghazi.

“Nama lengkap beliau adalah Asy-Syaikh Al Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qasim Al-Ghazi lahir pada tahun 859 H dikota Ghuzah yang menjadi bagian wilayah Syam untuk santri kelas II Tsanawiyah,”jelasnya.

Dikatakan Tgk. Wildan, Tgk. DR. Abdul Manaf M. Ag, juga memotivasi santri dayah Raudhatun Najah agar selalu giat dalam mempelajari dan dapat memahami ilmu agama.

Dalam mencari ilmu yang sangat terpenting adalah memahami bukan menghafal, hafal itu merupakan pengantar (muqaddimah) bagi ilmu.

“Kepada para santri, yang paling utama bagi seorang santri untuk dapat memadukan antara ilmu agama dan umum, supaya keilmuan yang ada pada diri seorang lebih melakat dan bermakna,”ucap Tgk. Wildan.(Syahrial)