Tumbuh Kembangnya Pendidikan di Aceh: Sebuah Refleksi di Hari Hardikda

06 Februari 2016 Diposting oleh : Super Administrator

Memperingati hari jadinya yang ke 45, Fakultas Dakwah UIN Ar Raniry mengadakan dua kegiatan yang berhubungan dengan Ali Hasjmy; pertama, melakukan ziarah ke makamnya. Kedua, melakukan napak tilas ke perjalanan hidupnya ke museum dan perpustakaan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy.

 

Ada satu hal yang menarik dalam acara kunjungan tersebut, adalah sambutan dari Said Murtadha Achmad, mantan kepala perpustakaan kantor gubernur Aceh yang menghabiskan masa purna tugasnya sebagai kepala museum dan perpustakaaan Ali Hasjmy. Melalui sambutannya, dia mengatakan kurang lebih mengatakan, ketika terjadi perundingan dalam penyelesaian Peristiwa Aceh, maka muncul lah banyak pendapat tentang apa yang hendak kita bangun paska perang.

Ada yang mengatakan bangun infrastrutur, pembangunan ekonomi, perkebunan dan sebagainya. Namun hal itu, lanjut Said Murtadha, dibantah oleh Ali Hasjmy. Dia mengatakan bahwa yang paling penting kita bangun adalah pendidikan, maka kemudian lahirlah Darussalam sebgai Kota Pelajar dan Mahasiswa.

Apa yang dikatakan oleh Said Murtadha itu, saya rasa berlebihan. Sebab ide tentang pembangunan pendidikan Aceh di masa itu adalah sebuah cita-cita awal yang sempat berhenti karena perang dan konflik yang berkepanjangan. Ali Hasjmy, tentulah bersama tokoh Aceh lainnya, ikut mendorong dunai pendidikan Aceh yang lebih baik, dengan pendirian Darussalam pada tanggal 2 September 1959, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pendidikan Daerah.

Ada catatan penting lainnya sebenarnya untuk memahami pergerakan dari pembangunan Pendidikan di Aceh. di tahun 1960 saja, ada 58% penduduk aceh dari jumlah populasi ditahun itu yang buta huruf latin dan dimana jumlah sekolah menengah pertama hanya 60 buah dan SMA 16 buah di seluruh Aceh (Tabloid Mutiara 327, 15 Agustus-28 Agustus 1984). Selain itu, sebagaimana dalam laporan tabloid mutiara tersebut bahwa memasuki tahun 1940-an, hanya mendirikan 8 sekolah dasar untuk penduduk pribumi dan hanya satu sekolah menengah pertama (MULO), dan situasi ini mulai berubah setelah lahirnya PUSA yang kemudian ditahun 1939 dan mendirikan Normal Islam Instituut di Bireun yaitu sekolah yang mendidik para calon guru agama.

Daud Remantan, dalam sebuah karya pentingnya yang berjudul Pembaharuan Pemikiran Islam di Aceh (1984), memberi banyak informasi penting berkenaan dengan sejarah tumbuhnya dunia pendidikan di Aceh. Menurutnya, keberadaan lembaga pendidikan modern Islam di Aceh didorong juga oleh perkembangan semangat modern di kawasan nusantara. Hal yang kemudian direspon dengan baik oleh ulama Aceh, terutama melalui hadirnya organisasi modern saat itu, Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA).

Semangat kemoderenan ini kemudian menjadi titik anjak dalam membawa Aceh melihat dunia baru. Dunia yang dikenalnya akibat persentuhan secara langsung dan dramatis melalui invasi Belanda di Aceh di akhir abad ke-19. Walau awalnya, dunia kemoderenan itu sempat ditanggapi secara reaktif, salah satunya dengan lahirnya fenomena Aceh Pungo, sebuah aksi bunuh tentara Belanda dengan mengorbankan diri.

Fenomena tersebut di satu sisi menunjukkan patriotisme tanpa batas. Namun di sisi lain adalah bentuk rasa frustasi atas kenyataan pendudukan Belanda di atas tanah Aceh yang dipertahankan secara mati-matian.

Akan tetapi kesadaran untuk hidup di zaman modern kemudian tumbuh, yang diwujudkan dengan membangun dunia pendidikan yang hancur akibat perang. Bagi angkatan terdidik di Aceh awal abad ke-20 menjadikan pendidikan sebagai pintu masuk bagi pembaharuan Aceh.

Apalagi dalam catatan sejarah yang menjadi ingatan kolektif, Aceh pernah menjadi pusat pendidikan Islam di Asia Tenggara. Dan menurut catatan Ali Hasjmy, yang paling berperan besar adalah Zawiyah Cot Kala di Peurelak. Lembaga pendidikan tersebut tidak hanya ikut mencetak ilmuwan di masanya, namun juga berperan dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara.

Kini, setelah 57 tahun Darussalam dibangun tonggaknya. Wajah pendidikan Aceh semakin beragam. Bila lima dekade sebelumnya, hanya ada dua perguruan tinggi, sehingga manusia Aceh berbondong-bondong ke Banda Aceh. Sesuatu yang berbeda tampak sekarang. Di beberapa kota/kabupaten besar di Aceh, sudah memiliki perguruan tinggi yang juga berkualitas.

Kemajuan ini tentunya adalah hal yang dicita-citakan oleh para tokoh Aceh di masa awal. Mereka yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pembaharuan Aceh itu, kini boleh tersenyum, karena tonggak dasar yang dikerjakan sudah mulai menampakkan hasilnya. Walau tentu di sana-sini masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan, untuk menuju dunia pendidikan Aceh yang lebih baik di masa mendatang.

Selamat Hari Pendidikan Daerah.

 

Penulis : M. Alkaf, M.Si.