IAIN Langsa
STAIN Langsa Gelar Studium Generale

11 September 2014

Mengawali perkuliahan semester ganjil sudah menjadi sebuah tradisi akademik pada setiap lembaga pendidikan tinggi untuk melaksanakan studium generale (kuliah umum), begitu juga halnya dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Zawiyah Cot Kala Langsa yang telah membuka perkuliahan semster ganjil tahun akademik 2014/2015 dengan mengadakan studium generale (kuliah Umum), studium generale ini diikuti oleh seleruh mahasiswa kususnya mahasiswa baru, dosen dan civitas akademika, studium generale yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA ini dipusatkan di aula seuramo teuhah, senin (8/9).


Farid Wajdi dalam orasinya menyampaiakan beberapa konsep khalifah yang ideal, dikatakannya pemimpin yang ideal itu hendaknya dapat membawa perubahan, kesejahteraan, kenyamanan, ketentraman dan kemakmuran, lebih lanjut dia menjelaskan dalam memimpin sebuah pemerintahan hendaknya ada lima unsur yang harus dipenuhi, yaitu : mendapatkan kekuasaan, menata dan menjalankannya, mensejahtrakan, mempertahankan dan melanjutkannya. “kekuasaan bukan sebuah kemenangan, tapi didalamnya harus ada cara mendapatkan kemenangan 20%, menata dan menjalankan 20%,  mensejahtrakan 20%, mepertahankan 20% dan melanjutkan 20%” terangnya.


Sementara itu ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Zawiyah Cot Kala Langsa Dr. H. Zulkarnaini Abdullah, MA dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Farid Wajdi, MA yang telah bersungguh-sungguh menbantu peningkatan status dari STAIN ke IAIN, “kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Prof. Farid Wajdi atas kesungguhan dan dukungan beliau  untuk meningkatkan status STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa”ucapnya, kepada mahasiswa zulkarnaini berharap, agar mahasiswa dapat menggunakan waktu seefsien mungkin untuk belajar, karena menurutnya akan ada perbedaan ketika belajar pada perguruan tinggi, baik itu kultur dan sistem pembelajaran, untuk itu mahasiswa dituntut untuk rajin dan bersungguh-sungguh serta dapat menciptakan kelompok-kelompok diskusi, “mahasiswa hanya mempunyai kesempatan yang sedikit untuk main-main dan bersenang-senang, harus lebih banyak waktu digunakan untuk belajar dan bersungguh-sungguh”terangnya. (Sya/Humas)