IAIN Langsa
Rapuhnya Rumah Tangga Yang Beda Agama

11 Juli 2013

Masyarakat Indonesia dikagetkan dengan kandasnya rumah tangga pasangan beda agama Jamal Mirdad (Muslim) dan Lidya Kandou yang sudah menikah selama 26 tahun. Belum terungkap alasan perceraian mereka. Terlalu dini menilai mereka bercerai karena faktor agama. Namun selain mereka, terdapat sederetan pesohor di negeri ini yang memiliki pasangan hidup beda agama mengalami hal sama, kandas di tengah jalan. Hanya saja, secara terbuka mereka menjelaskan ke publik bahwa salah satu alasan berpisah karena perbedaan agama. Pasangan Deddy Corbuzier dan Kalina (Muslimah), misalnya, resmi bercerai pada 31 Januari 2013 lalu mengaku perbedaan keyakinan merupakan salah satu penyebab perceraian. Artis lain seperti Yuni Shara (Muslimah) dan Henry yang sudah menikah 13 tahun akhirnya merasakan sulitnya membina rumah tangga beda agama. Terlepas dari gosip atau fakta yang mengitarinya, penulis ingin mempertegas bahwa rapuhnya rumah tangga beda agama karena perbedaan visi dan prinsip dalam menjalankan agama masing-masing dan kecenderungan seseorang pemeluk agama yang akan terlihat lebih religius dengan semakin bertambahnya usia.


Rumah Tangga dengan Visi Agama
Dalam hidup berumah tangga diperlukan persamaan visi. Apabila dalam berumah tangga tidak ada persamaan visi dan tujuan dunia maupun akhirat, lambat laun keluarga tersebut pasti akan mengalami kerapuhan. Karena itu, dalam Islam baik muslim maupun muslimah dianjurkan untuk menikahi pasangan bukan karena faktor kecantikan, ketampanan, harta kekayaan, dan keturunan saja, tetapi yang lebih utama adalah faktor agama. Rasulullah Saw bersabda: “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang mempunyai agama, niscaya kamu beruntung.” [HR. Bukhari dan Muslim]


Mengapa mereka melakukan nikah beda agama?
Selain pemahaman agama yang seadanya, alasan nikah beda agama di Indonesia karena pelakunya mendapat dukungan baik melalui perorangan, maupun lembaga tertentu. Malah dukungan nikah beda agama di Indonesia, hampir saja mendapatkan legalitasnya melalui rancangan perubahan Kompilasi Hukum Islam (KHI) kalau saja Menteri Agama RI saat itu Said Aqil al-Munawwar pada tahun 2004 tidak menghentikan proyek Counter Legal Draft KHI yang salah satu agendanya adalah dimasukkannya aturan pembolehkan nikah beda agama di Indonesia. Dalam buku Interfaith Theology: Responses of Progressive Indonesian Muslims yang terbit tahun 2006 (100: 2006), Zainun Kamal dkk mengatakan bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya dengan alasan: Pertama, Memberikan ruang antar pemeluk agama untuk dapat saling berkenalan satu sama lain. Kedua, Sebagai wahana untuk membangun toleransi dan kesepahaman antara masing-masing pemeluk agama di tengah rentannya hubungan antar agama saat ini (as a vehicle to create tolerance and understanding between followers of all religions in the midst of vulnerable interfaith relations at the moment).


Menurut penulis, untuk membangun toleransi dan kesepahaman antara masing-masing pemeluk agama di Indonesia tidak perlu dengan membolehkan praktik nikah beda agama karena rumah tangga beda agama sebenarnya rapuh.


Mengapa Rumah Tangga Beda Agama Rapuh?
Rapuhnya rumah tangga beda agama karena sulitnya mewujudkan kebahagiaan melalui suasana religuisitas/keberagamaan di dalam rumah ketika pasangan hidupnya berbeda agama. Kenikmatan berkeluarga ada yang hilang karena agama ibarat pakaian yang digunakan seumur hidup. Spirit, keyakinan, dan tradisi agama senantiasa melekat pada setiap individu yang beragama, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Di sana, terdapat ritual-ritual keagamaan yang idealnya dijaga dan dilaksanakan secara bersama dalam kehidupan rumah tangga. Pendek kata, penyebab rapuhnya rumah tangga beda agama adalah meningkatnya sikap keberagamaan suami atau istri terhadap agama yang dianutnya.


Meningkatnya Sikap Keberagamaan
Kecenderungan meningkatnya sikap keberagamaan seseorang terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Artinya, semakin tua usia seseorang maka ia akan semakin religius. Religiusitas orang dewasa bersifat universal dan tidak hanya menjangkiti pemeluk agama tertentu saja. Bagi seorang Muslim, ia akan terlihat lebih taat dalam beribadah dari sebelumnya. Rajin mengikuti acara-acara pengajian. Ia tidak lagi sekedar ikut-ikutan namun lebih cenderung memahami secara mendalam ajaran agamanya. Beragama baginya sudah merupakan sikap hidup. Memiliki tanggung jawab dan menyadari makna hidup.
Elizabeth B. Hurlock dalam buku Developmental Psychology (1953) mengatakan bahwa perhatian orang dewasa yang berumur 40 sampai 60 tahun terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya. Seorang teman penulis di UIN Jakarta yang pernah kuliah S2 di Universitas Leiden Belanda menguatkan penelitian Hurlock ini. Ia mengatakan bahwa rumah-rumah ibadah non-Muslim dipenuhi oleh jemaat yang berusia diatas umur 60-an tahun. Sulit sekali menemukan usia di bawah itu terutama anak-anak muda.


Selain itu, menurut Prof. Dr. H. Jalaludin dalam buku Psikologi Agama (2007: 107- 108) bahwa sejalan dengan tingkat perkembangan usia, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki ciri sebagai berikut: 1). Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan. 2). Cenderung bersifat realistis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku. 3). Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan. 4). Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup. 5). Bersikap lebih terbuka dengan wawasan keagamaan yang lebih luas. 6). Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani. 7). Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya. 8). Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan menjadi berkembang.


Penutup
Bagi seorang Muslim, Islam adalah pilihan hidup. Jika ia membina rumah tangga, cita-cita ideal yang akan ia bangun adalah menciptakan nuansa-nuansa Islam di dalam rumah. Seluruh anggota keluarga diajak untuk menjalankan Islam. Cita-cita ideal itu tidak akan terwujud manakala di dalam satu keluarga tersebut terdapat dua keyakinan, dan agama yang berbeda. Di mana letak kepemimpinan seorang suami yang Muslim jika melihat kenyataan anak kandungnya ikut agama ibunya yang tidak seakidah dengannya? Bagaimana perasaan seorang ibu yang Muslimah ketika melihat anaknya berbeda agama dengannya? Bagaimana galaunya perasaan anak melihat dalam satu rumah ada dua tempat untuk beribadah yang berbeda? Sepertinya usia pematangan religiusitas seseorang tidak harus menunggu 40-60 tahun seperti yang disebut oleh Elizabeth B. Hurlock. Dengan terbukanya sarana informasi orang yang beragama akan mencoba mendalami pengetahuan dan pengalaman serta pengamalan keberagamaannya. Pematangan religiusitas seseorang akan mudah terjadi sejauh mana ia membuka diri melalui informasi yang tak terbatas hari ini, kecuali jika dia tidak peduli terhadap agamanya sendiri dan tidak peduli rumah tangga yang dibangunnya atas berbagai agama. Na’udzubillah min dzalik!

 

Penulis : Budi Juliandi, MA