Jalan Lurus VS Jalan Sesat Dr. H. Zulkarnaini, M.A.

06 Februari 2016 Diposting oleh : Super Administrator

"Tunjukilah kami jalan yang lurus" (Q.S. al-Fatihah: 6). Demikianlah doa yang kita panjatkan pada setiap rakaat shalat. Kemudian (pada ayat 7) kita tegaskan lagi: "Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai; dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat." Semakin banyak kita melaksanakan shalat maka berarti semakin sebanyak pula permohonan doa ini kita bacakan. Akan tetapi sejauh mana efektivitas doa tersebut, tentu saja sangat terkait dengan ketulusan dan kekhusyukan kita dalam melaksanakan shalat. Kita selalu berharap – meskipun mungkin tidak atau kurang khusyuk dalam shalat – dengan terus menerus melaksanakan shalat, semoga Allah mengangkatkan level kita ke derajat orang-orang yang khusyuk.

Sebagian ulama tafsir dengan tegas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "orang-orang yang Engkau murkai" adalah orang-orang Yahudi, sedangkan "orang-orang sesat" adalah orang-orang Nasrani atau Kristen.

Orang-orang Yahudi dimurkai karena tindakan mereka mendurhakai Allah dan para utusan Allah. Mereka membangkang aturan-aturan dan menolak secara terang-terangan untuk mematuhi Allah dan rasul-Nya. Hal ini, misalnya, dapat dilihat dalam ungkapan Qur'an pada surat an-Nisa': 155: Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: "Hati kami tertutup." Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Demikian pula dikisahkan dalam surat al-Maidah: 24, ketika mereka diperintahkan untuk memasuki tanah suci Palestina, mereka menolak karena harus berhadapan dengan musuh. Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja. Mereka keras kepala. Mereka kadang-kadang menjadi patuh dan tunduk ketika mendapatkan ancaman bala dan bencana, akan tetapi ketika merasa telah aman dari ancaman tersebut mereka kembali berbuat durhaka. Karena itu kita diajarkan untuk berdoa supaya mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar dan tidak mengikuti jalan orang-orang durhaka itu.

Perbuatan durhaka, perbuatan keji, maksiat, sikap arogan, dan berbagai perbuatan dosa lainnya dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, serta dapat menjerumuskan siapa saja, tidak mesti orang-orang Yahudi. Hanya saja dalam rekaman sejarah yang ditunjukkan Qur'an dan sepanjang konteks yang relevan dengan dakwah pada zaman turunnya Qur'an, orang-orang Yahudi telah memainkan peran penting: mereka adalah orang-orang pintar dan terpelajar, memiliki kitab dan pengetahuan yang banyak; jejak sejarah mereka dan para nabi juga terkam dengan baik dalam catatan mereka; mereka adalah komunitas yang sangat potensial menjadi pendukung utama dakwah Nabi Muhammad; namun kebanyakan mereka justru menjadi pembangkang di garis depan. Qur'an merujuk kembali sejarah mereka untuk mengingatkan mereka kepada sejarah masa lalu yang telah dijalani oleh para pendahulu mereka, supaya mereka mengambil pelajaran darinya dan juga supaya menjadi pelajaran bagi umat Nabi Muhammad.

Orang-orang Nasrani disebut sesat karena telah memilih jalan yang menyimpang dari agama yang benar. Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (at-Tawbah: 31). Mereka sesat karena membuat jalan sendiri menuju Allah, bukan jalan yang ditunjukkan oleh Allah sendiri.

Jalan lurus adalah jalan yang membawa kita kepada tujuan yang kita inginkan, sedangkan jalan sesat adalah jalan buntu atau jalan yang membawa kita kepada bencana atau malapetaka. Barangsiapa telah terlanjur ke jalan sesat maka ia harus kembali lagi ke jalan yang benar supaya tidak terjerumus ke dalam kesengsaraan. Dalam surat Ali Imran: 51 dijelaskan bahwa jalan lurus adalah menyembah Allah, ini berarti menyembah selain Allah adalah jalan sesat. Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhanmu maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus. Dalam surat yang sama, ayat 101 ditegaskan lagi: Dan barang siapa yang berpegang teguh dengan (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Jadi barangsiapa berpegang teguh pada wahyu Allah (Qur'an) dan bimbingan Rasulullah, insya Allah ia akan selamat dan tidak akan tersesat. Akan tetapi orang-orang yang memilih jalan lain maka tidak akan ada petunjuk dan penolong baginya.

Bagaimana dengan persoalan interpretasi dan saling tuduh menuduh sesat di antara umat yang mengklaim berpegang teguh pada Qur'an dan hadis Nabi? Ini adalah persoalan umat beragama sepanjang sejarah. Orang-orang Nasrani telah membunuh dan bahkan membakar orang-orang yang mereka tuduh sebagai pelaku bid'ah dan sesat. Sebuah lembaga dalam sejarah Kristen yang bernama Inquisition telah menjadi saksi akan betapa mengerikan hukuman bagi pelaku bid'ah dan aliran sesat itu. Hal yang sama juga telah terjadi dalam Islam. Perang di antara sesama Muslim telah terjadi sejak masa paling awal dalam sejarah Islam. Betapa menyedihkan dan mengerikan dampak dari perselisihan itu. Seorang cucu Rasulullah dibunuh, dilempari dengan tombak ke mulutnya, ditusuk dadanya dengan pedang dan dipenggal lehernya. Seorang sufi dipatahkan tangan dan kakinya, disalib dan dibunuh.

Benarkah semua itu dipicu oleh sebuah semangat membela kebenaran? Qur'an mengingatkan kita bahwa perselisihan yang telah terjadi pada umat-umat terdahulu yang diberikan kitab bukan karena mereka tidak mempunyai ilmu. Ilmu mereka banyak, tetapi kedengkian di antara sesama mereka telah menyebabkan mereka terpecah belah. Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka.... (asy-Syura: 14).

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri.... (al-Baqarah: 213). Perbedaan pemahaman kadang-kadang telah menjadi alasan perpecahan umat Islam pada hari ini. Padahal pemahaman manusia tidak akan mungkin diseragamkan, sesuai dengan kapasitas akalnya dan latar belakang pengetahuan serta ilmu yang dimilikinya. Memang ada sebagian orang yang cenderung mengikuti hawa nafsunya dalam memahami wahyu Allah. Itulah orang-orang yang disebutkan Qur'an sebagai memiliki kesesatan dalam hatinya.

Dialah yang telah menurunkan kitab (Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat; itulah pokok-pokok isi Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal (Ali Imran:7).

Langsa, 23 April 2011
Zulkarnaini Abdullah