blog_2
Hadis Tentang Tiga Fungsi Masjid

05 Februari 2018

Istilah ``masjid`` merupakan bentuk derivatif dari sa-ja-da (menundukkan kepala, bersujud) (Maqayis al-Lugah, juz III: 133), ``masjid`` diartikan tempat sujud, dan pada akhirnya istilah ini menjadi nama tempat yang biasa digunakan umat Islam untuk melaksanakan salat (Encyclopedia of Islam and the Muslim World, vol. II, 2004: 437). Dalam salah satu kitab kanonik hadis, Shahih Muslim, istilah ``masjid`` bisa ditemukan dalam bentuk singular (masjid) dan maupun plural (masajid). Khusus dalam bentuk plural, Nabi hanya menyebut istilah ``masajid`` secara eksplisit pada tujuh isu saja, yaitu tentang pahala berjalan menuju masjid, lisensi perempuan salat di masjid, kenyamanan masjid, penghormatan terhadap masjid, kecintaan generasi muda terhadap masjid, pahala salat di masjid Nabi, keutamaan masjid Nabi, dan fungsi masjid.


Imam Muslim telah merilis beberapa hadis terkait dengan fungsi masjid, di antaranya adalah: ``Sesungguhnya (masjid-masjid) ini hanyalah untuk (tempat) dzikrullah, salat, dan qira’ah Alquran`` (Shahih Muslim, kitab al-Thaharah/2, bab Wujub Gasl al-Baul wa Ghairihi/30, no. hadis 100, 1998: 164). Hadis ini sebenarnya adalah satu fragmen dari matan hadis tentang ``aksi nekat`` seorang arab Badui yang kencing di dalam masjid, kemudian Nabi memberinya nasehat dengan kalimat di atas. Hadis ini dinilai sahih, karena para rawinya berkualitas tsiqah, selain ‘Ikrimah bin ‘Ammar yang hanya dinilai shaduq (Taqrib al-Tahdzib, juz I, 1993: 83, 111, 315, 685, 728, 111). Menurut penulis, hadis ini pun memiliki matan yang relatif aman dari problem distorsi-reduktif teks yang serius.

Sebagaimana telah disebutkan, hadis di atas menyebutkan fungsi masjid sebagai tempat dzikrullah, salat dan qira’ah Alquran. Subtansi hadis ini akan diinterpretasikan dengan perspektif quranik, karena menggunakan istilah-istilah yang juga dikenal dalam Quran (``dzikrullah``, ``salat`` dan ``qira’ah Alquran``). Tulisan ini juga bertujuan untuk menangkap dan mengembangkan makna hadis di hadapan ``mukhathab`` kontemporer – mengadopsi meaning function-nya mazhab penafsiran Gracia – terlepas apakah makna itulah yang dimaksud Nabi dalam hadisnya atau bukan.

Hadis di atas merekomendasikan tiga narasi penting, yaitu masjid sebagai pusat kontemplasi, pusat ritual, dan pusat kajian. Pertama, masjid dikatakan sebagai pusat kontemplasi, karena berfungsi sebagai tempat ``dzikrullah``. Istilah ``zikr`` artinya menghadirkan sesuatu di dalam hati (Mufradat Alfazh al-Qur’an, 2009: 328), atau ``ingat sesuatu``. Istilah ``dzikrullah`` berarti menjadikan ``Allah`` sebagai objek zikir, sehingga ``dzikrullah`` berarti ``ingat kepada Allah secara kontemplatif``. Alquran menyebut ``masjid`` sebagai (salah satu) tempat zikir (Q.S. 22: 40). Bahkan Alquran tampaknya menyamakan fungsi masjid, gereja dan sinagog, yaitu sebagai tempat untuk dzikrullah. Sebuah kisah menarik, diceritakan bahwa Nabi saw. pernah didatangi beberapa utusan non-muslim dari Najran. Setelah beraudiensi dengan Nabi, utusan non-muslim tersebut melakukan ``kebaktian`` dalam masjid. Sisi menariknya adalah Nabi membiarkan hal itu terjadi begitu saja di masjid Nabawi. (Zad al-Ma‘ad, juz III, 1994: 629). Nabi – barangkali – terinspirasi dari ayat di atas, atau mungkin beranggapan bahwa ``kebaktian`` adalah salah satu bentuk dzikrullah. Sesungguhnya ada banyak ayat lain tentang dzikrullah, misalnya ada yang menjelaskan bahwa dzikrullah dilakukan dengan gaya bebas (Q.S. 3: 135, 191, 4: 103), ataupun cara-cara-cara yang ``ketat`` (Q.S. 2: 239, 62: 9). Bahkan ``bernyanyi`` juga merupakan konsep zikir yang belakangan dikembangkan oleh para muballig saat menyampaikan ceramahnya di masjid. 

Kedua, masjid sebagai pusat ritual, karena berfungsi sebagai tempat salat. Pada awalnya, Alquran menjadikan ``salat di masjid`` dan ``salat berjamaah`` adalah dua hal yang berbeda, tetapi para juris muslim menjadikan keduanya saling terkait, dan mendapat dukungan dari hadis (misalnya, Shahih Al-Bukhari, kitab al-Adzan/10, bab Fadhl Shalah al-Jama‘ah/30, no. hadis 647, 2002: 163). Artinya salat di masjid adalah anjuran salat berjamaah. ``Jamaah`` adalah simbol kebersamaan menuju persatuan. Jadi, masjid adalah pusat ritual yang berimplikasi sosial, yaitu mempersatukan umat. Di luar masjid, umat bisa ``berbeda``, tapi saat di dalamnya harus ``bersama``. Jangan masjid dijadikan sumber perpecahan umat (Q.S. 9: 107), sehingga pembatasan pemanfaatan masjid untuk golongan tertentu saja, adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Alquran.

Ketiga, masjid dapat disebut sebagai pusat kajian, karena masjid adalah tempat ``qira’ah Alquran``. Istilah ``qira’ah Alquran`` lebih sering diartikan dengan ``membaca Alquran``. Jika Alquran yang sudah berwujud ``mushaf`` ini memiliki ``teks``, ``makna``, dan ``sejarah``, lantas manakah di antara ketiganya yang perlu dibaca? Jawabannya tentu: ``Teks`` untuk dibaca, ``makna`` untuk dipahami, dan ``sejarah`` untuk dikaji. Integrasi dari ``membaca``, ``memahami`` dan ``mengkaji`` inilah yang dinamakan ``qira’ah Alquran`` (Q.S. 17: 45, 73: 20, 84: 21). Bahkan, jika Quran diyakini mengandung isyarat-isyarat keilmuan, maka tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ``qira’ah Alquran`` mencakup segala bentuk kajian keilmuan, baik berhubungan secara langsung atau tidak dengan Alquran. 

Akhirnya, berdasarkan interpretasi terhadap hadis Shahih Muslim di atas, dapat disimpulkan bahwa masjid harus berfungsi sebagai pusat segala aktivitas dzikrullah, media pemersatu umat, dan pusat kajian keilmuan, wallahu a’lam. 

 

Dr. Asrar Mabrur Faza, S.Th.I, M.A.