IAIN Langsa
Buku: Membaca Islam Aceh

17 Maret 2015

Aceh sebagai icon perluasan globalisasi di ranah lokal hampir dapat disebut sebagai desa global yang dinamis. Masuknya kultur global di Aceh seharusnya bukan menjadi “rapor merah” bagi perkembangan kebudayaan dan pengetahuan lokal, tetapi ia setidaknya mampu mendefinisikan dirinya dalam konteks usaha memperkuat identitas lokal yang dinamis. Akan tetapi, ternyata pola-pola konfrontatif pertemuan dua identitas “lokal dan global” kini berlangsung dengan kritis dan tampak berhadap-hadapan. Tidak saja itu, meluasnya globalisasi di Aceh dalam tahun-tahun belakangan juga ikut mendukung dialektika lokal dan global di Aceh secara lebih intensif dan sistematis.

 

Di Aceh dapat diidentifikasi berbagai peluang dialog yang perlu ditunjukkan. Salah satunya adalah mengaktifkan kembali aktivitas-aktivitas Gampong, begitu juga Meunasah, Dayah, lembaga-lembaga adat, LSM lokal, termasuk juga ruang budaya seperti “Warung kopi” di Aceh menjadi penting diidentifikasi sebagai peluang ruang publik yang dinamis. Apa yang terjadi di Aceh belakangan ini, baik konflik yang disebabkan oleh faktor ekonomi politik --bentuk baru konflik Aceh--, meluasnya apa yang disebut dengan disorientasi nilai-nilai dan identitas Aceh menyebabkan anutan-anutan sistem tradisional memudar, selain diakibatkan oleh mobilitas internasional yang terjadi di Aceh pasca-tsunami juga bagian integral dari suatu perubahan sosial di Aceh atau deteritorialisasi budaya. Oleh karena itu, persoalan yang dihadapi dalam transformasi masyarakat Aceh semacam ini adalah suatu konteks pengelolaaan identitas lokal yang tidak dibentuk oleh agen tunggal, tetapi oleh berbagai agen dengan kepentingan yang berbeda-beda. Hadirnya berbagai institusi, baik NGO, lembaga pemerintah, baik lokal maupun internasional merupakan contoh nyata beragamnya agen yang terlibat dalam proses pemaknaan sebuah nilai-nilai yang diciptakan di Aceh.

 

Baca Buku Membaca Islam Aceh